blank

Layaknya sebuah komputer, manusia memiliki dua komponen utama, yakni hardware dan software. Manusia sebagai makhluk hardware (fisik) tersusun dari banyak komponen, seperti darah, daging, tulang, jantung, paru-paru, urat-urat syaraf hingga struktur DNA. Sedangkan manusia sebagai makhluk software (psikis) terdiri atas dua unsur utama, yakni akal untuk berpikir dan hati untuk merasa. Dengan begitu, jasadiyah manusia adalah hardware dan ruhaniyah manusia adalah software. Kedua unsur tersebut memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Menjaga keduanya agar tetap sehat, tidak eror, dan tidak terserang virus merupakan hal yang harus diperhatikan dan dilakukan manusia.

Menjaga kesehatan hardware dapat diupayakan dengan cara olahraga secara teratur, menjaga pola makan, istirahat yang cukup, tidak mengkonsumsi narkoba, dan lain-lain. Sedangkan menjaga kestabilan software dapat dilakukan dengan cara menghargai diri sendiri, berpikir positif, optimis, mengelola perasaan dan emosi, selalu bersyukur, meningkatkan keimanan, dan lain-lain. Kesalahan paling fatal yang banyak dilakukan manusia modern atau manusia zaman new adalah menjaga kesehatan fisik tanpa memperhatikan dan memperdulikan kesehatan mental. Padahal baik fisik maupun mental, keduanya adalah komponen yang saling terhubung dan sama-sama penting untuk dijaga. Dalam agama Islam, cara paling mudah menjaga kesehatan mental adalah dengan meningkatkan kualitas keimanan. Sebagaimana banyak peneliti baik dari bidang kedokteran maupun keagamaan telah mengungkapkan bahwa, menurunnya kualitas iman menjadi salah satu penyebab rendahnya kesehatan mental (software) pada manusia.

Para ulama mengkelompokkan kualitas keimanan manusia kedalam tiga kategori. Pertama adalah tingkatan dasar, yakni kadar keimanan seseorang yang biasanya sering naik turun dan berubah-ubah. Kategori ini biasanya diisi oleh orang-orang awam atau manusia biasa. Inilah yang penulis pahami tentang Artificial Iman, yakni iman buatan, tidak asli, tidak orisinil, kadang eror, kadang terkena virus, serta bisa naik dan bisa turun. Artificial Iman sewaktu-waktu bisa naik menuju Original Iman (iman asli, iman orisinil) jika seseorang senantiasa meningkatkan iman dan takwa serta menjalankan tugas kehambaannya dengan baik dan benar. Begitupun sebaliknya, Artificial Iman sewaktu-waktu bisa turun menjadi Artificial Fasik atau Artificial Kafir disebabkan oleh eror dan virus yang menyerangnya. Adapun eror dan virus yang dimaksud antara lain seperti terlalu berlebihan dalam urusan makan dan tidur, tenggelam dalam urusan duniawi, terlena dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki, tidak mau belajar, malas beribadah, dan lain-lain.

Kedua adalah tingkatan menengah, yakni kadar keimanan seseorang yang hampir stabil, kokoh, dan tidak mudah goyah (Iman). Kategori ini biasanya diisi oleh orang-orang yang istiqamah dan sudah lama mendalami ilmu agama, seperti kyai dan alim ulama. Ketiga adalah tingkatan tertinggi, yakni keimanan asli (Original Iman). Iman ini bersifat murni, asli, stabil, dan tidak akan goyah. Tingkatan ini adalah keimanan para Nabi dan Rasul serta para Sahabat. Meskipun seorang hamba tidak akan mampu naik ke tingkatannya para Nabi dan Rasul (Original Iman). Usaha-usaha agar Artificial Iman bisa naik ke tingkat kedua (Iman) atau setidaknya tidak turun ke Artificial Fasik atau Artificial Kafir harus selalu diupayakan. Dengan begitu, perlunya Reboot Iman dengan tujuan menyalakan ulang sistem keimanan agar virus dan file-file negatif bisa dibersihkan.
Reboot Iman adalah melancarkan atau menyegarkan kembali sistem keimanan yang sedang mengalami masalah. Tujuannya agar sistem keimanan kembali ke kondisi normal dan meminimalisir eror serta gangguan virus. Selain itu, Reboot Iman juga bertujuan untuk menaikkan Artificial Iman menuju Iman. Salah satu upaya menjalankan operasi Reboot Iman adalah dengan Tuma’ninah Hati. Tuma’ninah dalam shalat adalah diam sejenak dan tidak terburu-buru melakukan gerakan shalat. Namun Tuma’ninah secara bahasa juga mengandung arti bebas dari rasa cemas dan khawatir. Maka Tuma’ninah Hati dapat dipahami sebagai usaha agar kondisi hati menjadi tenang, tidak cemas, tidak mudah khawatir, dan khusyuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Mengingat dan melibatkan Allah dalam setiap aktivitas merupakan kunci awal agar hati menjadi lebih tenang. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rad ayat 28 yang berarti “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”. Ayat ini merupakan sebuah sistem, algoritma, dan kode etik yang harus selalu terinstal agar software dan hardware manusia dapat berjalan dengan baik. Seorang manusia yang menyandarkan segala urusannya hanya kepada Allah akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Ia akan menjadi pribadi yang selalu bersyukur, toleran, jujur, suka menolong, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Tingginya kriminalitas dan rendahnya kesehatan mental manusia saat ini disebabkan karena lemahnya iman kepada Allah SWT. Korupsi, kolusi, dan nepotisme merupakan bentuk kesombongan, keangkuhan, dan keserakahan manusia yang disebabkan karena tidak adanya iman kepada Allah SWT. Pencurian, penganiayaan, pembunuhan, dan perampasan hak orang lain adalah bentuk lemahnya kesadaran iman kepada malaikat-malaikat Allah SWT. Berlebihan dalam makan dan tidur, terlalu mengejar dunia, serta terlena dengan kekayaan dan kekuasaan merupakan contoh rendahnya iman kepada hari akhir. Overthinking, negative thinking, psimis, dan terlalu cemas adalah bentuk tidak beriman kepada qada dan qadar Allah SWT.

Problem kehidupan yang dipaparkan di atas merupakan eror sistem dan virus dalam diri manusia. Apabila tidak segera diatasi, eror dan virus tersebut akan menjalar ke seluruh software dan hardware manusia. Oleh karena itu, pentingnya melakukan Reboot dengan Tuma’ninah Hati agar keimanan bisa ter-upgrade dari Artificial Iman menuju Iman atau setidaknya meminimalisir Artificial Fasik dan Artificial Kafir. Tuma’ninah Hati dapat dimulai dengan memperbanyak zikir dan syukur kepada Allah, dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah seperti shalat, puasa, membaca Al-Qu’an, sedekah dan berkumpul di majelis orang-orang shaleh. Wallahu’alam bissawab.